Napak Tilas Makanan Puasa di Tanah Kelahiran

Ini tahun kelima setelah kembali merantau mengikuti suami di pulau seberang. Sebab tak bisa pulang di hari lebaran karena sudah memasuki usia delapan bulan kehamilan, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk pulang di awal bulan puasa ini. Bagi saya, ini adalah masa yang paling dirindukan setelah sekian lama tidak menikmati bulan Ramadan di tanah kelahiran. Bagi suami, ini adalah kali pertama ia akan menghabiskan awal puasa di luar kotanya tercinta. Bisa dikatakan kami sudah lama sekali tidak pulang dan menikmati berpuasa selain di rumah kecil kami di Jakarta. Setelah pindah ke Jakarta, tak pernah sekalipun kami pulang karena memang orang tua lebih banyak berlebaran di Bandung.

Ini menjadi tantangan baru karena untuk pertama kalinya membawa anak-anak untuk menetap agak lama di tempat selain rumah. Namun, ini tidak menyurutkan semangat untuk memperkenalkan budaya puasa kepada mereka. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Selama sepuluh hari menghabiskan waktu di sana (5 hari sebelum puasa dan 5 hari puasa), banyak hal yang didapatkan lagi, terutama makanan khas yang tak bisa ditemui di Jakarta. Rasanya seperti menemukan kembali apa yang selama ini diidam-idamkan.

Di kota kelahiranku, Palembang, tentu sudah menjadi ciri khasnya menjadi kota empek-empek. Akan tetapi, bukan itu saja yang dinanti saat pulang ke sana. Apalagi selama bulan puasa, akan bermunculan berbagai macam kue khas yang tak bisa ditemui di tempat lain. Kira-kira apa saja ya?

  1. Pempek. Jelas ini makanan yang paling banyak orang tahu. Namun bagi perantau seperti saya, bertemu dengan pempek itu seperti harus bertemu dengan orang penting. Hanya dimakan pada saat tertentu, atau di saat mendapat kiriman dari kampung halaman. Tetapi tidak kalau di bulan Ramadan. Kita bisa memakan pempek sepuasnya di saat berbuka puasa, setiap hari. Ya, setiap hari! Jangan salah, pempek itu sudah seperti konsumsi rutin yang harus dimakan, terutama di bulan puasa ini. Kalau berbuka puasa tanpa pempek, rasanya: HAMBAR.
  2. Laksan/Celimpungan. Ini juga makanan yang sebenarnya berbahan dasar pempek. Perbedaannya, kedua jenis makanan ini berkuah santan. Kalau laksan kuahnya merah dan cenderung pedas. Sebaliknya celimpungan berkuah kuning dan gurih. Keduanya paling mantap dimakan saat berbuka puasa, ditemani segelas es sirup segar. Rasanya? Tiada duanya. Tergiur? Silahkan kalau mampir ke Palembang jangan hanya memesan makanan terkenal  lain, seperti pempek atau tekwan. Cobalah yang satu ini, dijamin ketagihan seperti suami saya.
  3. Lapis merah putih. Sebenarnya ini makanan khas yang hanya didapat di acara-acara tertentu. Kebetulan kemarin saat pulang, orang tua sedang mengadakan sedekah sebelum memasuki bulan Ramadan. Salah satu kue yang disajikan adalah ini. Mirip dengan kue lapis yang bisa kita temui di Jakarta, tapi rasanya lebih mantap. Tepung beras dan rasa manisnya benar-benar berpadu. Sangat jarang saat ini bisa ditemui dijual bebas di pasar. Beruntung di Ramadan kali ini sempat merasakan kue satu ini.
  4. Kue basah khas Palembang. Nah, saatnya berbuka puasa, saatnya disajikan menu kue-kue basah khas Palembang lainnya. Ada srikaya, bolu kojo (kue basah berwarna hijau yang dipanggang, mirip kue lumpur tetapi memiliki tekstur yang lebih padat), gandus (kue dari tepung beras, dengan taburan ebi kering dan cabai, rasanya gurih asin), dan sebagainya. Walaupun bisa ditemui sehari-hari di pasar, kue ini tetap dicari selama bulan puasa. Rasanye, endeuss….
  5. Kue kering. Nah, yang paling khas tentu nastar. Sumatera Selatan terkenal dengan nanasnya yang manis dan lembut. Kebetulan saat pulang kemarin sempat menyicipi nanas segarnya, meskipun belum makan nastarnya. Rasanya enak dan manis. Mengapa jadi istimewa? Karena nanas sudah seperti komoditi untuk setiap masakan di sini. Bahkan masakan pindang pun harus memakai nanas sebagai pelengkapnya agar terasa asam gurih.

Mungkin itu saja seputar makanan-makanan yang paling sering ditemui di saat bulan Ramadan di Palembang. Sebagai perantau, merasakan makanan-makanan itu sudah bagai surga sendiri (lebay!). Bagaimana tidak, kalau mencarinya di Jakarta, sebenarnya ada, tapi rasanya tentu berbeda dengan di sana. Bahkan kata suami, di Palembang itu pempek murah sekalipun rasanya luar biasa enaknya.

Satu yang belum kesampean adalah bawa suami jajan pempek di pasar. Padahal bisa dibilang pempek di tempat itu adalah yang paling hakiki rasanya. Sayang, karena sudah memasuki bulan Ramadan, biasanya kedai atau warung pempek tutup di siang hari dan kebanyakan baru buka menjelang sore untuk menjual panganan menuju berbuka puasa. Kalaupun ada, tidak mungkin pula harus membatalkan puasa hanya demi mencicipinya.

Sebenarnya, bukan hanya makanan yang menjadi budaya di sini. Berasa sekali puasanya karena banyak toko makanan tutup di siang hari atau memakai tabir apabila mereka tetap buka. Ada juga penanda imsak menggunakan sirine yang disiarkan oleh radio RRI setiap kali imsak tiba. Semua itu menjadi kenangan yang tak terlupakan kala menjalankan puasa di sana. Sesekali merasa rindu dengan suasananya yang tak akan didapat selama di Jakarta.

Kira-kira kapan lagi ya bisa merasakannya? Semoga masih dipanjangkan umurnya hingga Ramadan berikutnya agar bisa kembali merasakan kehangatan Ramadan dan makanannya yang lezat.

 

One thought on “Napak Tilas Makanan Puasa di Tanah Kelahiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s