Tips Saat Jadi Narasumber Artikel Majalah

Siapa yang tak mau tampil di majalah? Memang belum sekelas orang terkenal atau tokoh inspiratif. Namun, kemunculan nama kita di dalam majalah menjadi langkah awal untuk eksis di dunia. Memberitahu kepada orang-orang yang membaca itu kalau ada kita.

Begitu yang saya rasakan ketika dihubungi oleh seorang wartawan yang meminta saya untuk menjadi narasumber sebuah majalan muslimah. Awalnya bingung dapat nomor kontaknya dari mana. Namun lebih bingung lagi karena saya tidak pernah baca majalah itu (dohhh….).

Akhirnya ya nekat saja. Karena tidak bisa bertatap muka secara langsung, akhirnya pertanyaan disampaikan melalui surel. Buat saya yang dulu orangnya kaku sepertu bahasa buku teks, bikin bingung juga menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Mikirnya, “Wah, orang harus paham nih dengan apa yang aku tulis.” Selain itu, ada juga kekhawatiran orang-orang jadi salah mengartikan maksud dari jawaban-jawaban itu.

Meskipun sudah pernah diwawancara oleh wartawan untuk keperluan surat kabar, menurutku menjadi narasumber untuk majalah lebih kompleks. Pembahasan isu dalam majalan lebih dalam dan harus praktis. Berbeda dengan artikel surat kabar yang lebih ditujukan untuk mendukung opini yang sudah dibentuk.

Akhirnya dengan mengucap Basmallah, semua dikerjakan juga. Setelah artikelnya naik cetak, baru menyadari ada hal-hal yang sebaiknya dilakukan saat menjadi narasumber artikel majalah. Apa saja?

  1. Paham market majalah. Jujur kemarin aku baru tahu market majalahnya setelah terima majalah berisi artikel yang ada nama akunya. Hahahaha. Memahami market ini penting karena menentukan bahasa yang kita gunakan untuk menyampaikan pendapat dan pengetahuan. Apalagi kalau majalah itu adalah majalah yang memiliki basis agama, tentu berbeda sekali penggunaan kata-katanya dibanding saat menulis artikel bebas. Kita harus benar-benar paham apa yang boleh dan tidak boleh disampaikan dalam majalah itu.
  2. Mengurangi bahasa ilmiah. Kadang karena kita terlalu fasih dalam membahasakan pengetahuan yang kita miliki, kita lupa kalau tidak semua orang memahami jargon-jargon yang ada di suatu agama tertentu. Jadi, pastikan kita bisa menyampaikan sebuah istilah ilmiah dalam bahasa awam, tanpa mengurangi maknanya. Jangan pula memudahkan pembahasaan tapi sampai mengurangi makna yang hendak termaktub dalam sebuah istilah seharusnya.
  3. Berikan solusi yang sangat praktis. Ini amatlah penting. Kalau bisa beri contoh. Karena orang yang membaca tentu tidak berharap kita kebanyakan baca teori. Namun, lebih berharap, “Ok, saya paham masalahnya, lalu apa yang harus saya lakukan?” Ini adalah kunci penting untuk menjadikan artikel kita bermanfaat.

Jadi, sudah siapkah kita menjadi narasumber majalah? Saya sendiri ketagihan ingin jadi narasumber lagi. Sayang belum ada lagi majalah yang menawarkan. Hehehehe.

Advertisements

3 thoughts on “Tips Saat Jadi Narasumber Artikel Majalah

  1. Wah… Keren nih Kak. Tentang jadi narasumber majalah.
    Jadi penasaran sama isi majalahnya.

    Kakak jadi narasumber apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s