The Magical Seven of Happiness

Bicara tentang angka tujuh, aku selalu teringat dengan sebuah komik yang pernah kubaca saat masih kecil dulu. Judulnya “Seven Magic”, bercerita tentang seorang remaja perempuan yang percaya kalau angka 7 dapat mendatangkan keberuntungan. Setiap kali ada hal yang membuatnya tegang atau menghadapi hal baru, ia akan menghitung dari angka 1 sampai 7 sambil memejamkan mata. Niscaya saat ia membuka mata setelah hitungan ke-7, sebuah kebaikan pasti terjadi. Bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi orang-orang yang ada di dekatnya atau dia harapkan keajaiban akan terjadi. Ia pun menyebarkan mantra itu pada orang-orang yang ia sayangi untuk menggunakannya, dan berhasil. Magic!

Lalu, bagaimana dengan kehidupan sebenarnya? Cukupkah cara itu memberikan keajaiban untuk kita? Hmm… bisa ya, bisa juga tidak.

Setidaknya menghitung angka sampai angka tertentu, bisa digunakan untuk meredakan kecemasan saat kita sedang berhadapan dengan sesuatu. Menghitung akan melambatkan tempo tubuh kita yang memburu saat cemas melanda. Cemas saat akan tampil, ujian, menghadapi calon mertua, dsb. Menghitung memberi jeda bagi tubuh untuk segera bereaksi terhadap stimulus stres yang dihadapi. So, it works!

Namun, cukupkah dengan menghitung demikian memunculkan kebahagiaan dalam kehidupan kita? Mari kita coba gunakan hitungan tujuh itu untuk hal lain, seperti menemukan cara-cara agar bahagia. Setelah merangkum dari semua yang pernah saya alami, saya menemukan 7 cara agar kita bahagia. Sebut saja sebagai The Magical Seven of HAPPINESS.

Tersenyum

Sudahkah kamu tersenyum hari ini? Coba deh, tarik ujung bibirnya dan rasakan bedanya dengan ekspresi yang selama ini melekat di wajah kita. Wajah ini yang bisa tertekuk karena banyaknya hal yang dipikirkan akan terasa sekali menjadi kaku karena otot-ototnya jarang digerakkan lewat tersenyum. Padahal lewat senyum akan ada biofeedback yang memunculkan reaksi lanjutan dalam tubuh kita, yaitu rasa senang dan bahagia. Selain itu, senyum pun dapat menular seperti saat menguap. Coba saja kamu tersenyum dengan seseorang yang berpapasan denganmu, maka ia pun akan membalas senyuman itu. Bukan hanya satu kebahagiaan yang kita dapatkan, melainkan dua. Satu dari senyum kita sendiri, satu dari orang lain yang kita beri senyuman. Jadi, sudah tersenyumkah hari ini?

Bersyukur

Senjata lainnya adalah mensyukuri apa yang dimiliki. Sepertinya berat, tapi sebenarnya tidak. Bersyukur itu sangatlah sederhana. Cukup mensyukuri dari hal yang tampaknya tak pernah kita pikirkan saja, yaitu bernapas. Masih diberi kesempatan untuk hidup di dunia adalah cara Tuhan memberi kita kesempatan agar menjadi lebih baik lagi sebelum dipanggil kembali ke sisi-Nya. Nah, yang sesederhana ini kadang dilupakan. Jadi, bagaimana caranya agar tidak pernah lupa? Siapkan sebuah toples di samping tempat tidur dan kertas untuk menulis. Setiap bangun tidur, tuliskan hal-hal yang patut disyukuri saat bangun pagi itu. Lalu masukkan ke dalam toples itu. Begitu pula saat akan tidur, lakukan ritual yang sama. Tuliskan dari hal paling kecil, paling sederhana. Setelah setahun bukalah dan baca kembali kertas-kertas yang sudah dikumpulkan. Let’s count your blessing!

Memaafkan

Memaafkan berarti melupakan? It’s a big no no! Maaf dan lupa ada di dua proses yang berbeda. Memaafkan berarti kita bisa kembali bersikap biasa atas luka masa lalu yang pernah kita dapatkan. Sebaliknya melupakan melibatkan jejak memori yang sudah ada di otak kita. Tak ada yang dapat menghapus itu, kecuali ingatan itu begitu traumatis, tak terekam dengan baik, atau kita mengalami amnesia. Namun, tak ada yang tahu persis memori tertentu ditempatkan di mana di otak kita, jadi amatlah sulit untuk menghilangkan memori tertentu sehingga membuat kita lupa. Yang bisa kita lakukan adalah menjadi biasa lagi saat mengingat hal itu. Tak ada lagi rasa malu, bersalah, dendam, benci, kesal, marah, dan semua hal negatif yang menggerogoti kita dari dalam. Jadi, sudahkah kita memaafkan? To forgive not to forget.

Menyapa Orang Lain

Benarlah silaturahim dapat menyambung usia. Bagaimana tidak? Dengan setidaknya menyapa orang lain, yang kita kenal, akan naik rasa bahagia di diri kita. Sekedar menyapa saja bisa jadi membuat orang yang sedang dirundung kemuraman, melihat secercah harapan. Bisa juga membuat orang yang mungkin merasa kesepian, menjadi bahagia karena ada yang mempedulikannya. Begitu pula ketika menyapa orang yang kita temui di jalan. Sama saja dengan memberikan senyuman, memberi sapaan juga bisa meningkatkan rasa bahagia kita. Karena begitu kita menyapa, orang itu pun akan balik menyapa. Dalam agama pun demikian, kita sebenarnya diwajibkan untuk menyapa setiap orang yang kita temui. Jadi, sudah menyapa hari ini?

Berbuat Baik Kepada Siapa Saja

Sudah pernah menonton film Pay it Forward? Percayalah kebaikan yang sudah kita lakukan untuk orang lain itu tak akan sia-sia. Kebaikan itu akan terbayar suatu saat tanpa kita sadari. Sayang, di era sekarang, berbuat baik seakan selalu diikuti oleh maksud tertentu. Atau seakan mengharap imbalan tertentu. Padahal berbuat baik bisa memberikan efek bahagia juga pada diri kita, tanpa kita sadari. Misalnya saat kita menolong orang yang sedang kesulitan. Akan muncul rasa puas dan bahagia jika orang itu akhirnya tersenyum karena masalahnya bisa terselesaikan. Meringankan beban orang lain, dapat meringankan beban kita pula. Bahwa tak melulu kita harus jadi orang “jahat” di dunia ini.

Tidur dan Makan Enak

Dua hal ini mungkin paling sederhana untuk dilakukan, tidur dan makan enak. Tidur adalah hal paling dasar yang harus kita syukuri. Tanpa tidur, pagi hari kita akan terasa begitu terbeban karena tubuh kita masih menyisakan lelah di hari sebelumnya. Akhirnya terbawa hingga keseharian kita yang berujung tak ada rasa bahagia. Jadi, tidur yang cukup amatlah penting demi kebahagiaan kita sendiri. Begitu pula dengan makan makanan enak. Jika sedang dirundung kesedihan, cobalah untuk makan sesuatu yang kamu sukai. Rasa enak yang kita dapat saat makan itu akan membuahkan rasa bahagia di diri kita.

Menghabiskan Waktu dengan Orang yang Disayangi

Memang uang yang kita dapatkan dari bekerja akan memberi kita kelapangan untuk berkegiatan yang katanya memberi kita kebahagiaan. Padahal, bukan mewahnya kegiatan yang membuat kita bahagia. Sebaliknya, kebersamaan bersama orang terkasihlah yang akan memberi kita kebahagiaan, apapun situasinya. Coba renungi, hanya sekedar bergelut dengan anak dan pasangan di atas kasur saat bangun tidur pun bisa membuat kita bahagia. Anak-anak tertawa dan tersenyum yang akan menambah kebahagiaan kita. Jika belum berkeluarga, coba lakukan dengan orang tua, saudara, teman terdekat. Benarlah hal paling menyenangkan bukan kita berwisata ke mana, tetapi bersama siapa kita berwisata itu.

Itu tujuh hal ajaib yang bisa mendatangkan kebahagiaan untuk kita. Sudahkah kita lakukab semua? Atau malah belum dilakukan semua? Ingat, hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan bersungut menyesali kehidupan. Jangan habiskan untuk sesuatu yang menghabiskan energi positif kita. Bangun energi positif itu agar energinya bisa terbagi ke banyak orang. 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7…. kebahagiaan muncul!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s