Titipan Ketiga

Dua garis merah itu lagi.

Setelah seminggu lebih detak jantungku terasa tak karuan seperti saat hamil anak kedua dulu, aku merasa jelas ada yang berbeda. Aku meminta agar suamiku membeli testpack sepulang ia bepergian. Benar saja, tanda dua garis merah itu muncul menandakan aku hamil. Anak ketiga.

Rasanya sungguh campur aduk. Tak jelas, antara senang atau sedih. Aku merasa sungguh tak berkutik ternyata Allah menitipkan aku satu lagi nyawa untuk diasuh. Sungguh ini lagi-lagi di luar dugaan, tanpa perencanaan. Seperti saat kehamilan kedua kemarin.

Bingung, takut, dan rasa bersalah itu ada lagi meskipun tak sekuat ketika hamil Aizza. Aku mencoba kembali berdamai dengan kondisi ini yang tak pernah ada di dalam rencana. Sebab baru saja Aizza berulang tahun yang pertama, ternyata Allah menambah kepercayaan untuk kami berdua sebagai orang tua.

Kebingungan muncul karena kami dalam kondisi rumah tangga yang paling minim sejauh lima tahun pernikahan kami. Tanpa rezeki keuangan yang mencukupi ternyata Allah menitipkan kami rezeki lain dalam bentuk yang berbeda. Mencoba berdamai untuk urusan ini tentu tak semudah itu. Memasrahkan diri bahwa Allah punya rencana lebih baik dibanding apapun yang kami manusianya pikirkan. Allah memberi kami jalan yang berbeda di luar perkiraan, untuk memaknai arti rezeki yang memang sedang kami cari selama enam bulan terakhir ini.

Takut muncul seketika saat memikirkan aku baru saja melahirkan dengan operasi SC kedua kalinya. Nyeri luka itu masih terasa, lalu bagaimana kondisinya ketika hamil ketiga. Sebelum memeriksakan diri ke dokter, aku berpikir banyak hal, salah satunya berdoa agar tak terjadi ruptur rahim karena kehamilan ketiga ini.

Alhamdulillah ketakutan ini berkurang karena saat memeriksakan diri ke dokter kandungan yang menangani Aizza dulu, tebal jahitanku berada pada batas yang diizinkan. Aku dan suami benar-benar mengucap syukur atas itu. Tak ada hal lain yang ditakutkan selain cerita-cerita riwayat SC yang mengalami ruptur rahim karena jarak kehamilan yang terlalu dekat. Hanya doa agar Allah menjaga diri ini hingga nanti melahirkan yang selalu terpanjatkan.

Terakhir, rasa bersalah yang mirip ketika hamil Aizza. Rasa bersalah tidak dapat mencukupi kebutuhan ASI-nya hingga waktunya. Sedih karena ia harus menangis meraung-raung sangat kehausan di malam hari akibat dari ASI yang sudah berkurang drastis. Sempat pula berat badannya turun sebab sakit yang semakin sering menderanya. Padahal sebelumnya ia jarang sekali sakit dibandingkan kakaknya. Selama ini ASI masih menjadi pendukung utamanya dalam mendapatkan energi.

Ketika rasa itu sungguh mendominasi. Namun satu hal yang akan selalu ingat adalah senyum sumringah suami saat aku hamil. Ini menguatkanku untuk terus menjadikan ini pelajaran baru untuk kehidupanku. Kemudian saat periksa kandungan terakhir, aku melihat dia di sana. Sesosok ciptaan yang sebentar lagi ditiupkan ruhnya oleh Sang Maha Pencipta.

Meskipun dia belum bernyawa tetapi gerak dan lompatannya saat diperiksa menggunakan USG memperlihatkan kuasa-Nya yang tak terbatas. Membuatku makin percaya, ada tangan-Nya yang selalu menyambungkan kehidupan kami, menentukan langkah kami, membuat kami aman dalam perlindungan-Nya.

Si sulung pun sangat gembira. Di usianya yang ketiga, dia sudah sangat bisa memahami akan ada adik bayi yang lahir dari perut ibunya. Setiap kali diminta sayang dengan adik di perut pun dia langsung melakukannya. Sesekali dia menunjukkan kelucuan dengan pertanyaan mengenai adiknya. Lalu apa lagi yang butuh dirisaukan?

PRku saat ini adalah memisahkan diri dari yang kedua. Memberinya pengertian akan ada adik yang lahir nantinya. Perlahan dia mulai melepas dan beralih. Namun tetap saja ini PR yang tak akan selesai sampai nanti adiknya lahir.

Kerisauan yang ada terutama dari pandangan orang perihal ini tentu ada. Walau demikian, apa lagi nikmat yang mampu aku dustakan jika suami dan anak-anakku sudah mampu menerima serta mendukung kehamilan ini sepenuh hati.

Titipan baru artinya pelajaran baru. Berbeda dari sebelumnya, artinya akan mengajarkan aku menjadi manusia baru juga. Semoga bisa terus belajar hingga nanti aku mungkin tak diberi kesempatan lagi untuk belajar.

Advertisements

2 thoughts on “Titipan Ketiga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s