Satu Bulan

Hari ini tepat satu bulan berlalu sejak aku menghentikan cita-citaku semasa kecil. Sedih? Sudah tak terlalu lagi. Bahagia? Banget! Aku merasa tidak ada yang salah dengan pilihanku ini.

Memilih meninggalkan pekerjaan dan berada di rumah bersama anak-anak adalah bentuk surga yang diimpikan oleh sejumlah orang yang masih terjebak di luar sana. Keberanian untuk melakukannya tidak semudah yang dikatakan orang. Namun setiap keputusan pastilah dilakukan atas beragam pertimbangan matang yang terjadi saat itu. Keputusan yang dibuat adalah keputusan terbaik saat itu.

Aku mungkin tampak menyerah, untuk tidak memperjuangkan keduanya, pekerjaan dan keluarga. Akan tetapi, apakah semua orang haruskah demikian? Berdiri di dua kursi yang sama beratnya dan harus menanggung seumur hidupnya. Aku merasa tak sekuat itu. Memang orang yang baik adalah orang yang mampu menekan diri hingga batas dirinya. Namun siapakah yang tahu hal itu? Aku atau orang lain?

Beberapa yang sudah mengetahui keputusanku ini mendukung pilihanku. Pilihan terbaik katanya. Mungkin memang sedikit banyak orang-orang masih beranggapan menjadi ibu di rumah dan memperhatikan anak-anak adalah yang paling baik untuk dilakukan. Komentar semacam ini aku temui pada orang-orang yang lebih bisa melihat sesuatu bukan hanya sekedar materi dan eksistensi diri. Orang-orang yang menganggap kepentingan anak harus melampaui segalanya. Apalagi dengan kondisi saat ini, sulit sekali menemukan pengasuh yang baik untuk anak kita.

Kenyataan ini bukan hanya sekedar aku dengar dari cerita orang lain. Aku melihatnya jelas di depan mataku bagaimana anak tetangga diperlakukan oleh pengasuhnya saat makan pagi. Sedih dan kesal rasanya melihat kejadian yang terekam jelas di memoriku bagaimana seorang anak berusia 2,5 tahun dipaksa makan sampai mengeluarkan air mata karena mulutnya dipenuhi oleh makanannya. Di sana aku merasa, di mana letak tanggungjawab kita sebagai orang tua?

Sebaliknya, ada juga yang menganggapnya sayang, meski tak terucap tetapi terekspresikan dari wajah dan sikapnya. Sebagian diantaranya aku melihat masih mementingkan materi, menganggap tanpa seorang ibu bekerja maka kebutuhan keluarga tak akan pernah tercukupi. Jika memang masih dianggap demikian, mengapa agama hanya mewajibkan suami sebagai kepala keluarga yang harus mencari nafkah? Jika takut kekurangan materi, bukankah Allah Yang Maha Pemberi Rezeki tak pernah salah memberikan rezeki hamba-Nya? Tanggungjawab membentuk keluarga ada di ayah maupun ibu tetapi apakah keluarga yang sukses hanya dinilai dari seberapa banyak materinya?

Sebagian yang lain menganggap sayang sekali karier yang sudah dicapai selama ini. Di usiaku yang 30 tahun ini, karierku saat ini sudah dapat dikatakan “right on track”. Sebagai seorang pendidik di perguruan tinggi, aku sudah melangkahkan kaki cukup jauh, memiliki rekam jejak yang mumpuni untuk terus mengembangkan sayapku secara internal dan eksternal institusi. Siapa yang tidak ingin melanjutkan pendidikan sampai jenjang yang paling tinggi? Bahkan mendapat gelar keahlian di suatu bidang dan menjadi rujukan banyak orang? Mimpi seperti ini adalah mimpi tiap orang tentunya. Memiliki eksistensi diri di dunia ini, menjadi dikenal oleh banyak orang. Namun sampai kapankah? Aku melihat hal ini sekarang sebagai suatu rutinitas. Meskipun aku tak memungkiri ada rasa rindu untuk melakukannya. Aku sangat suka mengajar, berbagi ilmu dan pengalaman. Sekarang aku menyadari hal ini bisa aku lakukan dalam banyak bentuk tanpa harus terikat dalam suatu institusi asal dilakukan secara konsisten.

Meskipun demikian, ada komentar yang cukup lucu ketika aku memberitahukan hal ini kepada sahabat SMA-ku. “Kapan aku juga resign ya?” ujarnya. Lontaran ini membuatku merasa, ternyata bukan hanya aku saja yang berada di dalam kegamangan antara bekerja dan keluarga. Aku tak perlu merasa iri dengan para ibu bekerja yang mampu menjalani kedua kehidupannya dengan baik. Karena bisa jadi keputusan dan keberanianku untuk menjalani keputusan itu malah menjadi sesuatu yang diharapkan orang lain untuk dapat dilakukan.

Di awal usia tiga puluhku ini aku melanjutkan babak baru kehidupan. Merevisi kembali visi dan misi kehidupanku. Bukan hanya mementingkan diriku sendiri tetapi juga harta berharga yang dititipkan Allah kepadaku, yaitu anak-anakku. Aku harus bisa melakukannya. Satu bulan ini sudah cukup menjadi masa transisi untukku. Menata hati dan pikiran serta menerima bahwa ada banyak hal lain yang harus aku lakukan ke depannya yang sama beratnya dengan apa yang aku lakukan dahulu.

Seperti yang ditanyakan oleh seorang sahabat, “Bagaimana rasanya di rumah, Ndah?” Aku jawab, “Aku bahagia.” Transisi perpindahanku dari bekerja secara penuh di luar dan menjadi penuh waktu di rumah ternyata tak seberat itu juga. Mungkin jarak yang tak jauh selepas cuti melahirkan, membuatku belum merasakan enaknya kembali bekerja sehingga tak banyak penyesuaian yang harus aku lakukan. Menjalani semua dengan apa adanya ternyata memberikan efek positif. Apalagi dengan dukungan dan pendampingan suami, semua tak terasa. Bersyukur ada lingkungan kondusif yang cukup mendukung untuk terus melanjutkan perjalanan ini.

Belajar untuk menghargai setiap keputusan adalah apa yang aku pelajari dengan perjalananku ini. Tak ada keputusan yang lebih baik dan tak ada keputusan yang salah. Seorang teman berujar ketika menyampaikan kata perpisahannya kepadaku, “Apapun yang Indah lakukan semua keputusan yang diambil tentunya akan membawa ke jalan takdir yang ada. Jadi, tak ada keputusan yang salah karena semuanya adalah jalan Allah untuk membawa ke suatu takdir yang tak mungkin bisa dihindari.”

YA, semua ini adalah jalan yang harus aku jalani hingga akhirnya aku menghadap Sang Pencipta. Sampai sejauh mana aku bisa memanfaatkan sisa usiaku, maka itu semua tergantung diriku. Jalan takdirku ada di sini, bukan jalan takdir orang lain. Jadi, waktu satu bulan hanyalah masa yang singkat. Tak perlu lama bersedih karena banyak tugas lain menanti.

Advertisements

Air Mata Terakhir

Titik air hujan membasahi jendela di sebelah tempatku duduk. Hujan. Tak sederas itu tetapi mampu membasahi bumi yang sedari gersang karena teriknya matahari. Aku melihat orang-orang yang tak siap berlarian untuk berteduh. Beberapa di antaranya segera berlari masuk ke toko kopi tempat aku duduk ini. Aku tersenyum. Hujan, mengingatkan aku pada satu kala, saat itu ketika hujan turun tak begitu deras.

====================================

“Bohong.” Kataku. “Jangan main-main dengan perasaanku. Ngapain juga kamu bisa suka sama aku? Kita beda usia, beda lingkungan, beda semuanya. Apa yang bisa bikin kamu suka padaku?”

“Memang perlu ya semuanya sama? Namanya juga suka, ga kenal sama umur lah.” Sahutnya di seberang sana dengan nada yakin.

“Kalau begitu, coba buktiin. Sekarang hujan kamu berani ga dateng ke sini jemput aku?” Aku pun menantangnya.

“Berani. Tunggu, ya. Aku akan ke sana.”

Telepon pun diputus olehnya. Sepuluh menit berlalu, tak hentinya aku memeriksa gawaiku untuk melihat apakah dia menelepon kembali. Tak berapa lama, namanya tertera di layar. Aku pun segera mengangkatnya.

“Hei…” Sebelum sempat aku berbicara banyak dia langsung bicara, “Coba deh kamu keluar sekarang, aku tunggu di depan gerbang.”

Aku pun segera menghambur keluar kamar, berlari melewati kamar-kamar yang ada. “Duh, kenapa juga kamar kostku ini letaknya di ujung, jauh begini.” Batinku.

Sesampainya di depan pintu masuk, aku pun terpana. Dia ada. Di sana, berdiri dalam hujan sambil tersenyum padaku. Aku pun membuka payung lipat yang segera ku sambar cepat sebelum keluar kamar. Dia tertawa kecil melihat ekspresiku.

“Hahaha.. ga nyangka ya aku beneran ada.” Ujarnya. Aku masih terpana melihat sosok di depanku ini. Sambil memayunginya aku menatapnya lurus langsung ke matanya, “Ya, aku percaya.”

====================================

Aku tersenyum kecil dan menyeruput kopiku yang masih hangat. Memori kecil yang tak pernah hilang dari ingatanku. Sejak itu, dia selalu mengisi hariku. Di kala aku jatuh, di kala aku bangkit, bertahun-tahun ia membantuku keluar dari masa laluku yang suram. Aku tak pernah membayangkan bagaimana hidupku akan kembali baik tanpanya.

Memang. Usianya tak sama denganku meskipun kami hanya terpaut enam bulan. Cepatnya aku sekolah membuat jarak kami menjadi berbeda dua tahun. Jauh? Mungkin tidak. Tetapi semuanya akan berbeda. Aku dengan duniaku dan ia dengan dunianya. Entah mengapa ia selalu bisa menyihir aku untuk mendengarkan celotehannya akan banyak hal dan ia mampu membuatku nyaman dengan hal itu.

Aku melihat ke pintu. Makin banyak orang yang memasuki toko kopi ini yang sedari tadi kosong. Lamunanku sedikit buyar padahal aku ingin menikmati sedikit momen kesendirian ini di tempat ini. Di tempat kenanganku bersamanya.

Ya, toko kopi ini telah menjadi saksi untuk setiap momen dan cerita kami. Setiap kali penat, kami akan menghabiskan waktu di sini. Sebuah toko kopi kecil yang memiliki kopi lezat untuk kami berdua. Ia yang telah mengenalkan aku dengan kopi di sini. Baginya di sini adalah tempat ia menemukan jati dirinya. Dan aku, bagiku di sini adalah tempat aku menemukan dia sebagai bagian hidupku.

“Hai Dev.” Sebuah suara menyapaku. Aku menoleh dan tidak ada siapa-siapa di situ. Ternyata hanya ilusi aku mendengar suaranya. Aku menghela nafas. Tak sadar air mataku menetes. Aku menoleh ke luar jendela, menangis. “Ya, tak mungkin. Ia tak mungkin kembali lagi.” Batinku.

Aku pun beranjak dari tempat dudukku sambil menghapus air mata yang masih menitik setetes demi setetes. Aku menarik nafas panjang sambil berdiri dan menatap ke arah depan. Kemudian berjalan melewati beberapa orang yang sedang mencari tempat duduk sambil membawa kopi. Aku melewati barista yang dalam sibuknya masih tersenyum kepadaku. Senyum pahit yang menyiratkan kesedihan dan seperti hendak menyemangatiku. Seringnya kami di sini membuat kami akrab dengannya. Aku pun membalas senyumnya sekilas dan mengangguk sambil berlalu.

Kubuka pintu toko. Hujan masih mengalir dari langit, tak sederas itu. Sama persis dengan kala itu. Aku pun berjalan dalam hujan, merasakan tiap titiknya membasahi wajahku. Tak berasa lagi-lagi air mataku mengalir. “Ya, ia tak akan kembali lagi.”

Hari ini adalah hari pemakamannya. Tepat sehari sebelum kami mengikat janji kebersamaan kami. Ia ditemukan tak sadarkan diri di kamarnya kemarin sore. Sambil menggenggam cincin yang seharusnya ia sematkan di jariku esok. Di sebelahnya tertulis di atas secarik kertas yang tergenggam erat, sepucuk surat yang ia tujukan kepadaku.

Ia dalam sekaratnya masih berjuang mengingatku dan menyemangatiku untuk terus hidup tanpa kehadirannya. Meskipun telah kami perjuangkan sepenuhnya ternyata kanker itu tak jua menyerah. Akhirnya ia yang harus menyerah hingga hari terakhir menuju keabadian.

Tanganku mendekap erat di dada. “Dingin…dingin…sekali…Har. Mengapa kau bisa tahan akan dinginnya hujan saat itu.” Aku berkata lirih. Air mata itu tak terbendung lagi semakin deras mengalir. Sesaat aku teringat kalimat yang ia ucapkan saat ia pertama kali dinyatakan mengalami kanker.

“Bagaimana pun aku akan sayang kamu seterusnya, Dev. Meski tubuhku melebur bersama tanah, sayang inilah yang akan aku ingat selamanya.”

Saat itu aku tersenyum, begitu pun ia yang memelukku kencang. Aku tahu dia menangis dalam hatinya namun tak mau ia tunjukkan karena begitulah ia, selalu berusaha tegar di mataku. Di saat aku memaksanya untuk tetap menikahiku pun ia tidak menolak meskipun ia terus berusaha agar aku memikirkan kembali rencana itu.

Hujan pun berhenti. Matahari sedikit mengintip di antara lembayung yang tertiup angin. Aku menghapus air mataku, air mata terakhir untuk ia yang telah mencintaiku sedemikian rupa. Untuk ia tak akan hilang dari hatiku.

“Tunggu aku Har, hingga hari kita bertemu lagi.”

.

.

.

Jakarta, 10 April 2018

Inspirasi dari cerita lama yang pernah dulu ditulis.

#belajarnulisbersama #bnb #challengeflashfiction

Menulis dan Kepribadian

Tulisanmu adalah proyeksi sisi dalam dirimu

 

Pernahkah kita mempertanyakan kepada diri, mengapa kita hanya bisa menulis satu jenis tulisan tertentu dan tidak untuk tulisan jenis lainnya. Misalnya, ada orang yang lebih suka membuat cerita-cerita fiksi yang menggambarkan metamorfosa dari sebuah kejadian yang ada. Bahkan dirinya kesulitan untuk mengekspresikan diri ketika diminta untuk membuat sebuah artikel ilmiah atau tulisan motivasi pembangkit semangat. Sebaliknya, ada orang-orang yang memang lebih menyukai penulisan dengan melibatkan data-data sebagai pendukung tulisan. Jika kita baca maka tulisannya sarat akan pengetahuan mengenai hasil penelitian atau studi yang ada.

Yang manakah kita?

Menurut ilmu perilaku, apa yang muncul dari diri kita adalah bentuk proyeksi dari apa yang kita miliki. Ketika seseorang berperilaku tertentu maka bukan tidak mungkin hal itu bersumber dari motif atau sikap yang dimilikinya. Lebih dalam lagi, kita dapat mengatakan perilaku kita ada karena adanya kepribadian yang kita miliki. Ketika apapun yang kita lakukan bersumber dari kepribadian maka begitu pula kegiatan menulis dan hasil tulisan kita.

Salah satu teori kepribadian yang dipakai untuk menjelaskan tentang perilaku manusia adalah teori yang diutarakan oleh C. G. Jung. Jika kita pernah mendengar tentang tipe kepribadian Introvert dan Ekstrovert, maka Jung lah pelopornya. Banyak sekali ilmuwan di bidang Psikologi mengembangkan teori yang diungkapkan Jung ini dengan membuat berbagai penurunannya. Salah satunya adalah MBTI (Myers-Briggs Type Indicator). MBTI adalah salah satu inventori kepribadian yang amat mudah dipahami dalam menjelaskan kepribadian seseorang. Lewat MBTI, kepribadian individu dibagi berdasarkan tipologi-tipologi yang merupakan kombinasi dari empat dikotomi yang diungkapkan Jung. Dengan demikian, individu dengan tipologi berbeda tentunya akan menampilkan perilaku, pikiran, motivasi, minat, dsb. yang berbeda satu sama lainnya.

Empat dikotomi yang diungkapkan dalam MBTI ini, antara lain membahas mengenai (1) fokus utama dari kehidupan kita, apakah terhadap dunia di luar sana atau terhadap diri kita sendiri (Extraversion (E) – Introversion (I)); (2) bagaimana kita mengelola informasi yang masuk, apakah kita menerima data yang masuk secara apa adanya atau langsung memaknai atau menginterpretasi informasi yang diberikan (Sensing (S) – Intuition (N)); (3) apa yang menjadi pertimbangan ketika mengambil keputusan, apakah logika dan konsistensi atau mempertimbangkan situasi atau kondisi terlebih dahulu sebelum keputusan dilakukan (Thinking (T) – Feeling (F)); dan (4) apa yang dilakukan ketika kita berurusan dengan dunia luar, apakah melakukan perencanaan yang pasti atau membuka diri pada informasi atau kesempatan yang baru (Judging (J) – Perceiving (P)). Berdasarkan keempat dikotomi ini maka akan muncul 16 kombinasi kepribadian yang kita dapat sebut tipologi. Penilaian kepribadian ini didasarkan pada persepsi seseorang terhadap apa yang ia lakukan, pikirkan, atau rasakan selama ini. Jika ingin mengetahui termasuk tipe kepribadian apakah kita, maka bisa dengan mengisi serangkaian pertanyaan di TES MBTI ini.

Jadi, manakah dari dikotomi ini yang akan berpengaruh banyak terhadap isi tulisan kita? Saat seseorang menulis maka yang akan terlihat adalah bagaimana dirinya mempersepsi data atau informasi yang masuk kemudian mengolah dan mengeksekusinya dalam bentuk tulisan. Dapat dikatakan orang dengan tipe kepribadian S akan menghasilkan tulisan yang berbeda dengan orang dengan tipe kepribadian N.

Sebagai contoh, hal ini tampak jelas di tempatku bekerja. Sebagai salah seorang yang bekerja di tempat yang erat sekali kaitannya dengan penulisan, apalagi penulisan ilmiah, maka kemampuan dalam merangkai data-data menjadi bentuk tulisan akan sangat berbeda. Bagi teman-temanku yang memiliki tipe kepribadian S, mereka membutuhkan banyak data dari berbagai penelitian ilmiah sebelum akhirnya mampu menulis. Hasil tulisannya pun biasanya tidak bertele-tele dan mencantumkan kutipan-kutipan yang memadai. Kesan yang diberikan dalam tulisannya cenderung kaku karena tidak ada gaya bahasa yang mendayu-dayu. Sebaliknya, teman-teman dengan tipe kepribadian N menghasilkan karya yang cukup unik. Karena seseorang yang N akan memberikan sentuhan pribadi saat menuliskan kalimat-kalimat pendukung dari kutipan-kutipan yang ada. Judul tulisan yang diberikan pun biasanya adalah judul yang fantastis dan dapat sangat puitis.

Jika dikaitkan dengan jenis tulisan umum, yaitu fiksi dan non-fiksi, maka amatlah wajar ketika seseorang lebih mampu membuat satu jenis tulisan dibandingkan tulisan lainnya. Berdasarkan tipe kepribadian MBTI ini, seseorang dengan tipe N akan lebih mudah dalam menulis novel atau cerita fiksi lainnya karena kemampuannya dalam menginterpretasi dan mengkhayal sangatlah tinggi. Sebaliknya, orang-orang dengan tipe S akan lebih memilih membuat karya non-fiksi karena mereka membutuhkan data riil dari setiap kalimat yang dituliskannya.

Jadi, termasuk ke dalam tipe kepribadian manakah Anda? N ataukah S? Atau?

 

 

Sumber:

http://www.myersbriggs.org/my-mbti-personality-type/mbti-basics/home.htm?bhcp=1

 

 

#belajarmenulisbersama

 

Kembali ke Kita

Kemarin malam aku habis membaca salah satu hadist. Detail kata per katanya aku tak ingat, tetapi isi hadist tersebut mengingatkanku akan hal yang mungkin selama ini aku lalai. Intinya seperti ini, bahwa kita sebagai muslim dilarang untuk memaki atau mengatakan sesuatu yang buruk mengenai saudara kita sesama muslim karena pada akhirnya bisa jadi keadaan itu berbalik kepada kita. Setelah membaca hadist tersebut, rasanya aku seperti dihentakkan pada keadaan yang mana banyak sekali ke-alpa-an yang terjadi selama ini. Dimana aku lupa untuk menjaga dan mengerem emosi ku untuk tidak menjelek-jelekkan orang lain karena bisa jadi kondisi jelek itu akhirnya berbalik pada diri kita sendiri.

Sekarang pun aku mulai merasakannya. Mungkin tadinya aku kurang sabar untuk mengungkapkan uneg-uneg ku, sehingga dengan mudahnya melontarkannya. Aku tak pernah tahu seperti apa sebenarnya kondisi orang lain sehingga bisa jadi apa yang aku lontarkan tersebut tidak benar adanya. Kalaupun benar, jahat sekali aku karena sudah berbuat tidak baik kepada saudara semuslimku sendiri.

Rasanya harus diingatkan berkali-kali, apa yang sudah kita katakan mengenai orang lain bisa jadi suatu saat kondisi itu berbalik kepada kita. Kita harusnya menyadari bahwa, semua akan kembali kepada kita. Kita bisa jadi merasakan hal yang serupa dengan apa yang kita lontarkan mengenai orang tersebut, bisa juga mungkin dalam bentuk yang berbeda. Intinya, kita itu harus bisa menjaga, mengontrol diri. Kita tak punya hak untuk menghakimi orang, karena kita juga sebagai manusia tentunya tidak ingin dihakimi seperti itu juga. Hanya Tuhan yang patut untuk menilai apakah memang orang itu baik atau jelek. Cukuplah Tuhan yang menghakimi kita di kemudian hari nanti.

=================================================================

Mengingat hadist tersebut, betapa aku makin jatuh cinta dengan ISLAM. Betapa lengkapnya agama ini mengatur semua perilaku penganutnya. Tak perlu berpuluh penelitian untuk membuktikan semuanya. Tak perlu juga uji statistik untuk menguji kebenarannya. Karena kita tak perlulah mempertanyakan karena semua perintah dalam agama datangnya dari Tuhan. Dan kita sebagai makhluk tidaklah pantas untuk mempertanyakan aturan-Nya. Betapa tidak tahu dirinya kita jika demikian, karena artinya kita mempertanyakan Zat yang telah menciptakan kita, yang membuat akal dan pikiran kita. Tak kan pernah mungkin akal dan pikiran kita ini mampu menandingi pembuat akal dan pikiran. Jadi, untuk apa lagi kita mempertanyakannya? Yang ada kita harusnya bisa melaksanakan semua perintah dan larangan Nya dengan sebaik-baiknya, untuk mencapai ridhoNya.

 

 

-Sedikit renungan di siang hari-

Cempaka Putih, 081216

Maternity Leave di Penghujung Tahun

Yaps.. today udah masuk week 38.. dan aku pun dah mulai maternity leave.. memulai cuti untuk memasuki masa persalinan dan menjaga baby di 3 bulan pertamanya.

Alhamdulillah sampe kemarin kondisi masih aman terkendali, meskipun kontraksi ga selesai-selesai. Bahkan yang paling parah ketika bangun tidur atau kebangun di malam hari. Perut tuh rasanya ga kenceng banget dan sakitnya luar biasa. Kemarin sempet baca artikel sih, kalau sebenarnya manusia cuma bisa menahan rasa sakit pada 45 titik bagian tubuhnya, sedangkan pada orang yang melahirkan, rasa sakit itu berjumlah lebih banyak dibanding seharusnya, kalau ga salah sekitar 52 titik. Kebayang kan….gimana rasanya melahirkan nantinya.

Memang sih, sempet kepikir macem-macem sejak Braxton Hicks nya dimulai. Kepikirnya gini, kalau kontraksi palsu aja bisa sedemikian sakitnya, apalagi kontraksi yang asli. Penjelasan di berbagai artikel pun sebenarnya ga terlalu membantu buatku (membantu sih paling 30%) dalam menjelaskan kontraksi yang asli itu ky apa. Cuma kebayang aja, kalo kontraksi palsu udah bikin diri ini ga bisa tidur, ga bisa jalan, ga bisa duduk dengan tenang, apalagi yang namanya kontraksi asli. Semua memang tergantung pada ambang rasa sakit si ibu itu sendiri. Berbeda-beda tentunya. Dan sepertinya aku termasuk yang sangat sensitif terhadap rasa sakit. Alhasil, kontraksi yang terjadi bikin pengen nangis (Ya Allah..kuatkan hamba Ya Allah…*berdoa ala baim*)

Cuma ya…itu semua adalah pengalaman yang tak akan pernah tergantikan ketika menjadi seorang ibu. Kebayang dulu, bagaimana ibu mengandung dan melahirkan kita. Kebayang kita dah banyak dosa sama ibu padahal kita dah nyusahin sejak dalam kandungan. Makanya tetap aja, ga ada yang bisa gantiin perjuangan seorang ibu karena dengan ibu yang membiarkan kita untuk membuat dirinya sakitlah yang akhirnya membuat kita bisa melihat dunia ini.

Oia.. hari ini dah mulai maternity leave (cuti melahirkan maksudnya). Bablas sejak tanggal 24 Desember kemarin (yang memang libur nasional) sampe weekend, dan mulai cuti hari Senin ini. Senangnya, suami pun ikut ambil cuti di akhir tahun. Sayangnya, meskipun punya cuti panjang, kitanya ga bisa kemana-mana juga. Mengingat udah harus jadi orang tua SIAGA yang kapanpun dan dimanapun, apapun bisa terjadi. Tadinya pengen ke Bandung ketemu ortu yang lagi ke sana. Namun, sepertinya impossible, melihat betapa macetnya jalanan menuju keluar Jakarta. Seakan-akan orang Jakarta semua tumpah ruah buru-buru keluar dari Jakarta demi mengejar libur panjang.

So.. kita berdua di rumah, beresin rumah buat nyiapin kehadiran the baby. Ada rasa excited bercampur cemas, berharap semua akan lancar dan baik-baik saja. Sampai tadi malam pun, kontraksi nya masih terjadi. Bahkan rasanya badan ky remuk redam. Cuma harus ditahan demi si baby tercinta.

De…lahir dengan selamat ya,,,lahir dengan lancar. Abi dan Ibu menunggu kehadiranmu. Semoga kami bisa segera bertemu dengan mu ya..

*kecup cium untuk baby di perut*

25 days and less

Udah kurang dari 30 hari saja…  Duh… Makin bingung rasanya…
Bingung…apalagi sih yang kurang, apalagi sih yang butuh disiapin, apalagi yang butuh dilakuin?

Apa yang sudah dilakuin:
1. Siapin keperluan bayi yang penting…baju, celana, bedong, popok, gurita, selimut, perlak, sabun, dll.  Udah… Bahkan ada beberapa yang ga perlu beli karena dapet dari kakak dan dibuatin oleh mama tercinta serta mamah mertua…
2. Cek kondisi kehamilan.. Terakhir dokternya bilang kalau baby nya sehat, ga ada kelainan jantung, ga ada masalah dengan besarnya, dan aktifff banget..  Sehari-hari juga ga berenti gerak apalagi mlm hari.

Seminggu terakhir ini… Di week ke-36..baby nya makin bikin daku g bisa tidur… Bahkan mungkin dia tau ya klo sudah waktu nya tidur… Dia langsung gerak dengan aktifnya.. Apalagi dengan perut yg makin gede dan cuma bisa tidur miring ke kiri.. Bikin makin sulit buat tidur…

Udah gitu sekarang makin hari makin kontraksi terus.. Meskipun masih kontraksi palsu. Cuma ya bikin was2..cemas..kira2 kapan si baby mau lahir. 

Doanya cuma satu.. Baby lahir di waktu yang tepat, melalui cara yang tepat, dengan kondisi yang baik…

Bismillah…

10 weeks to go being #superMOM

Hola deadrin’s world…

cukup lama ga update perihal kabar diri setelah kemarin didiagnosis beberapa kelainan yang menyertai kehamilan ini. Sempet kaget, panik, dan macem2 pikiran menyertai. Oia, selain dibilang ada skoliosis di punggung, kemarin juga sempet dibilang ada gejala pre-eklampsia. Meski tekanan darah baru menunjukkan angka 120/90 dengan tingkat albumin di urine +1, sudah diminta dokter nya buat waspada. Tentunya bikin shock nya nambah karena langsung terbayang semua yang berkaitan dengan pre-eklampsia. Memang di keluarga dekat ga ada riwayat menderita pre-eklampsia…hanya saja sudah beberapa kali mendengar cerita tentang pre-eklampsia ini, yang bisa bikin ibu ataupun bayi ga selamat.

Setelah tanya-tanya sama temen kantor yang punya riwayat pre-eklampsia, dia menyarankan untuk periksa ke dokter SpOG subspesialis fetomaternal. Subspesialis ini merupakan kekhususan dokter kandungan dan kebidanan untuk ibu hamil dengan risiko tinggis, salah satunya pre-eklampsia. Setelah cari sana-sini, mempertimbangkan waktu yang tepat juga untuk periksa, akhirnya di minggu ke-25 (satu minggu setelah dibilang ada gejala ke arah pre-eklampsia) aku memeriksakan diri ke dokter SpOG (K) fetomaternal di salah satu rumah sakit HHG di bilangan Depok.

Berangkat dari rumah jam setengah 5 sore, kebetulan Depok belum macet jadi sampai di rumah sakitnya jam 5 lebih sedikit (padahal rumah sakitnya ada di belahan lain Margonda Depok. Setelah sempat booking sebelumnya, aku dapat urutan nomor 7. Dibilang oleh petugasnya urutan ini ketemu dokter sekitar jam 6 sampai setengah 7 sore. Namun, ternyataa…..satu pasien aja si dokter bisa periksanya hampir setengah jam. Kalau beliau baru mulai praktik jam 5 kurang (which is pas kita baru sampe, baru pasien urutan pertama yang diperiksa), artinya kita bisa-bisa diperiksa jam 9 ke atas. (langsung lemes…)

Akhirnya setelah aku dan suami 3x bolak-balik keluar tempat khusus praktik dokternya (buat makan dan sholat), tibalah juga giliran kami. Alhamdulillah… kebayang ga sih, kita yang nunggu aja bisa selelah ini, apalagi dokternya sendiri. Masuk ke ruangan, si dokter kelihatan lelahnya. Namun, tanpa memperlihatkan kelelahan itu, dia tetap memeriksa dengan tatarannya sebagai subspesialis. Dengan tenang dia menjelaskan satu per satu kondisi janin yang diperlihatkan oleh USG. Alhamdulillah… (sekali lagi cuma bisa ngucapin syukur itu kepada Allah), kondisi janinnya masih aman. Tidak terdapat indikasi yang bisa menyebabkan gangguan pada janinnya. Hanya saja satu hal yang masih menjadi pe-er AIR KETUBAN KURANG. Gleg… duh, harus seberapa banyak lagi sih minumnya??? Rasanya sudah berliter-liter minum terus setiap hari ternyata air ketubannya masih kurang.

Dokternya juga minta periksa darah lebih lengkap untuk melengkapi hasil pemeriksaan. Hanya saja, karena harus puasa dahulu, baru bisa dilakuin keesokannya. Hasil dari pemeriksaan darahnya pun tidak tampak kelainan yang mengkhawatirkan. Tingkat albumin di urine pun negatif. Kadar hemoglobin saja yang masih di bawah seharusnya. Akhirnya kelegaan bisa menyertai aku dan suami ku. Setelah sempat diwanti-wanti untuk diet ketat, setidaknya membuat aku tidak perlu terlalu cemas soal diet. Paling hanya mengurangi konsumsi makan yang kurang sehat saja.

Pada saat balik ke dokter kandungan yang biasa 3 minggu kemudian pun ternyata pe-er-nya pun tetap sama. Air ketuban kurang sehingga dokternya kembali meresepkan obat baru (obat…lagi dan lagi obat…), yaitu obat pengencer darah untuk meningkatkan supply ke janin. Semoga di pemeriksaan berikutnya kondisi sudah kembali normal lagi…