Kembali ke Kita

Kemarin malam aku habis membaca salah satu hadist. Detail kata per katanya aku tak ingat, tetapi isi hadist tersebut mengingatkanku akan hal yang mungkin selama ini aku lalai. Intinya seperti ini, bahwa kita sebagai muslim dilarang untuk memaki atau mengatakan sesuatu yang buruk mengenai saudara kita sesama muslim karena pada akhirnya bisa jadi keadaan itu berbalik kepada kita. Setelah membaca hadist tersebut, rasanya aku seperti dihentakkan pada keadaan yang mana banyak sekali ke-alpa-an yang terjadi selama ini. Dimana aku lupa untuk menjaga dan mengerem emosi ku untuk tidak menjelek-jelekkan orang lain karena bisa jadi kondisi jelek itu akhirnya berbalik pada diri kita sendiri.

Sekarang pun aku mulai merasakannya. Mungkin tadinya aku kurang sabar untuk mengungkapkan uneg-uneg ku, sehingga dengan mudahnya melontarkannya. Aku tak pernah tahu seperti apa sebenarnya kondisi orang lain sehingga bisa jadi apa yang aku lontarkan tersebut tidak benar adanya. Kalaupun benar, jahat sekali aku karena sudah berbuat tidak baik kepada saudara semuslimku sendiri.

Rasanya harus diingatkan berkali-kali, apa yang sudah kita katakan mengenai orang lain bisa jadi suatu saat kondisi itu berbalik kepada kita. Kita harusnya menyadari bahwa, semua akan kembali kepada kita. Kita bisa jadi merasakan hal yang serupa dengan apa yang kita lontarkan mengenai orang tersebut, bisa juga mungkin dalam bentuk yang berbeda. Intinya, kita itu harus bisa menjaga, mengontrol diri. Kita tak punya hak untuk menghakimi orang, karena kita juga sebagai manusia tentunya tidak ingin dihakimi seperti itu juga. Hanya Tuhan yang patut untuk menilai apakah memang orang itu baik atau jelek. Cukuplah Tuhan yang menghakimi kita di kemudian hari nanti.

=================================================================

Mengingat hadist tersebut, betapa aku makin jatuh cinta dengan ISLAM. Betapa lengkapnya agama ini mengatur semua perilaku penganutnya. Tak perlu berpuluh penelitian untuk membuktikan semuanya. Tak perlu juga uji statistik untuk menguji kebenarannya. Karena kita tak perlulah mempertanyakan karena semua perintah dalam agama datangnya dari Tuhan. Dan kita sebagai makhluk tidaklah pantas untuk mempertanyakan aturan-Nya. Betapa tidak tahu dirinya kita jika demikian, karena artinya kita mempertanyakan Zat yang telah menciptakan kita, yang membuat akal dan pikiran kita. Tak kan pernah mungkin akal dan pikiran kita ini mampu menandingi pembuat akal dan pikiran. Jadi, untuk apa lagi kita mempertanyakannya? Yang ada kita harusnya bisa melaksanakan semua perintah dan larangan Nya dengan sebaik-baiknya, untuk mencapai ridhoNya.

 

 

-Sedikit renungan di siang hari-

Cempaka Putih, 081216

Advertisements

Maternity Leave di Penghujung Tahun

Yaps.. today udah masuk week 38.. dan aku pun dah mulai maternity leave.. memulai cuti untuk memasuki masa persalinan dan menjaga baby di 3 bulan pertamanya.

Alhamdulillah sampe kemarin kondisi masih aman terkendali, meskipun kontraksi ga selesai-selesai. Bahkan yang paling parah ketika bangun tidur atau kebangun di malam hari. Perut tuh rasanya ga kenceng banget dan sakitnya luar biasa. Kemarin sempet baca artikel sih, kalau sebenarnya manusia cuma bisa menahan rasa sakit pada 45 titik bagian tubuhnya, sedangkan pada orang yang melahirkan, rasa sakit itu berjumlah lebih banyak dibanding seharusnya, kalau ga salah sekitar 52 titik. Kebayang kan….gimana rasanya melahirkan nantinya.

Memang sih, sempet kepikir macem-macem sejak Braxton Hicks nya dimulai. Kepikirnya gini, kalau kontraksi palsu aja bisa sedemikian sakitnya, apalagi kontraksi yang asli. Penjelasan di berbagai artikel pun sebenarnya ga terlalu membantu buatku (membantu sih paling 30%) dalam menjelaskan kontraksi yang asli itu ky apa. Cuma kebayang aja, kalo kontraksi palsu udah bikin diri ini ga bisa tidur, ga bisa jalan, ga bisa duduk dengan tenang, apalagi yang namanya kontraksi asli. Semua memang tergantung pada ambang rasa sakit si ibu itu sendiri. Berbeda-beda tentunya. Dan sepertinya aku termasuk yang sangat sensitif terhadap rasa sakit. Alhasil, kontraksi yang terjadi bikin pengen nangis (Ya Allah..kuatkan hamba Ya Allah…*berdoa ala baim*)

Cuma ya…itu semua adalah pengalaman yang tak akan pernah tergantikan ketika menjadi seorang ibu. Kebayang dulu, bagaimana ibu mengandung dan melahirkan kita. Kebayang kita dah banyak dosa sama ibu padahal kita dah nyusahin sejak dalam kandungan. Makanya tetap aja, ga ada yang bisa gantiin perjuangan seorang ibu karena dengan ibu yang membiarkan kita untuk membuat dirinya sakitlah yang akhirnya membuat kita bisa melihat dunia ini.

Oia.. hari ini dah mulai maternity leave (cuti melahirkan maksudnya). Bablas sejak tanggal 24 Desember kemarin (yang memang libur nasional) sampe weekend, dan mulai cuti hari Senin ini. Senangnya, suami pun ikut ambil cuti di akhir tahun. Sayangnya, meskipun punya cuti panjang, kitanya ga bisa kemana-mana juga. Mengingat udah harus jadi orang tua SIAGA yang kapanpun dan dimanapun, apapun bisa terjadi. Tadinya pengen ke Bandung ketemu ortu yang lagi ke sana. Namun, sepertinya impossible, melihat betapa macetnya jalanan menuju keluar Jakarta. Seakan-akan orang Jakarta semua tumpah ruah buru-buru keluar dari Jakarta demi mengejar libur panjang.

So.. kita berdua di rumah, beresin rumah buat nyiapin kehadiran the baby. Ada rasa excited bercampur cemas, berharap semua akan lancar dan baik-baik saja. Sampai tadi malam pun, kontraksi nya masih terjadi. Bahkan rasanya badan ky remuk redam. Cuma harus ditahan demi si baby tercinta.

De…lahir dengan selamat ya,,,lahir dengan lancar. Abi dan Ibu menunggu kehadiranmu. Semoga kami bisa segera bertemu dengan mu ya..

*kecup cium untuk baby di perut*

25 days and less

Udah kurang dari 30 hari saja…  Duh… Makin bingung rasanya…
Bingung…apalagi sih yang kurang, apalagi sih yang butuh disiapin, apalagi yang butuh dilakuin?

Apa yang sudah dilakuin:
1. Siapin keperluan bayi yang penting…baju, celana, bedong, popok, gurita, selimut, perlak, sabun, dll.  Udah… Bahkan ada beberapa yang ga perlu beli karena dapet dari kakak dan dibuatin oleh mama tercinta serta mamah mertua…
2. Cek kondisi kehamilan.. Terakhir dokternya bilang kalau baby nya sehat, ga ada kelainan jantung, ga ada masalah dengan besarnya, dan aktifff banget..  Sehari-hari juga ga berenti gerak apalagi mlm hari.

Seminggu terakhir ini… Di week ke-36..baby nya makin bikin daku g bisa tidur… Bahkan mungkin dia tau ya klo sudah waktu nya tidur… Dia langsung gerak dengan aktifnya.. Apalagi dengan perut yg makin gede dan cuma bisa tidur miring ke kiri.. Bikin makin sulit buat tidur…

Udah gitu sekarang makin hari makin kontraksi terus.. Meskipun masih kontraksi palsu. Cuma ya bikin was2..cemas..kira2 kapan si baby mau lahir. 

Doanya cuma satu.. Baby lahir di waktu yang tepat, melalui cara yang tepat, dengan kondisi yang baik…

Bismillah…

10 weeks to go being #superMOM

Hola deadrin’s world…

cukup lama ga update perihal kabar diri setelah kemarin didiagnosis beberapa kelainan yang menyertai kehamilan ini. Sempet kaget, panik, dan macem2 pikiran menyertai. Oia, selain dibilang ada skoliosis di punggung, kemarin juga sempet dibilang ada gejala pre-eklampsia. Meski tekanan darah baru menunjukkan angka 120/90 dengan tingkat albumin di urine +1, sudah diminta dokter nya buat waspada. Tentunya bikin shock nya nambah karena langsung terbayang semua yang berkaitan dengan pre-eklampsia. Memang di keluarga dekat ga ada riwayat menderita pre-eklampsia…hanya saja sudah beberapa kali mendengar cerita tentang pre-eklampsia ini, yang bisa bikin ibu ataupun bayi ga selamat.

Setelah tanya-tanya sama temen kantor yang punya riwayat pre-eklampsia, dia menyarankan untuk periksa ke dokter SpOG subspesialis fetomaternal. Subspesialis ini merupakan kekhususan dokter kandungan dan kebidanan untuk ibu hamil dengan risiko tinggis, salah satunya pre-eklampsia. Setelah cari sana-sini, mempertimbangkan waktu yang tepat juga untuk periksa, akhirnya di minggu ke-25 (satu minggu setelah dibilang ada gejala ke arah pre-eklampsia) aku memeriksakan diri ke dokter SpOG (K) fetomaternal di salah satu rumah sakit HHG di bilangan Depok.

Berangkat dari rumah jam setengah 5 sore, kebetulan Depok belum macet jadi sampai di rumah sakitnya jam 5 lebih sedikit (padahal rumah sakitnya ada di belahan lain Margonda Depok. Setelah sempat booking sebelumnya, aku dapat urutan nomor 7. Dibilang oleh petugasnya urutan ini ketemu dokter sekitar jam 6 sampai setengah 7 sore. Namun, ternyataa…..satu pasien aja si dokter bisa periksanya hampir setengah jam. Kalau beliau baru mulai praktik jam 5 kurang (which is pas kita baru sampe, baru pasien urutan pertama yang diperiksa), artinya kita bisa-bisa diperiksa jam 9 ke atas. (langsung lemes…)

Akhirnya setelah aku dan suami 3x bolak-balik keluar tempat khusus praktik dokternya (buat makan dan sholat), tibalah juga giliran kami. Alhamdulillah… kebayang ga sih, kita yang nunggu aja bisa selelah ini, apalagi dokternya sendiri. Masuk ke ruangan, si dokter kelihatan lelahnya. Namun, tanpa memperlihatkan kelelahan itu, dia tetap memeriksa dengan tatarannya sebagai subspesialis. Dengan tenang dia menjelaskan satu per satu kondisi janin yang diperlihatkan oleh USG. Alhamdulillah… (sekali lagi cuma bisa ngucapin syukur itu kepada Allah), kondisi janinnya masih aman. Tidak terdapat indikasi yang bisa menyebabkan gangguan pada janinnya. Hanya saja satu hal yang masih menjadi pe-er AIR KETUBAN KURANG. Gleg… duh, harus seberapa banyak lagi sih minumnya??? Rasanya sudah berliter-liter minum terus setiap hari ternyata air ketubannya masih kurang.

Dokternya juga minta periksa darah lebih lengkap untuk melengkapi hasil pemeriksaan. Hanya saja, karena harus puasa dahulu, baru bisa dilakuin keesokannya. Hasil dari pemeriksaan darahnya pun tidak tampak kelainan yang mengkhawatirkan. Tingkat albumin di urine pun negatif. Kadar hemoglobin saja yang masih di bawah seharusnya. Akhirnya kelegaan bisa menyertai aku dan suami ku. Setelah sempat diwanti-wanti untuk diet ketat, setidaknya membuat aku tidak perlu terlalu cemas soal diet. Paling hanya mengurangi konsumsi makan yang kurang sehat saja.

Pada saat balik ke dokter kandungan yang biasa 3 minggu kemudian pun ternyata pe-er-nya pun tetap sama. Air ketuban kurang sehingga dokternya kembali meresepkan obat baru (obat…lagi dan lagi obat…), yaitu obat pengencer darah untuk meningkatkan supply ke janin. Semoga di pemeriksaan berikutnya kondisi sudah kembali normal lagi…

 

 

Being SuperMOM #2

Menginjak 5 bulan…

Alhamdulillah. tak terbayangkan ternyata kandungan ku sudah memasuki setengah waktu yang dibutuhkan hingga kelahirannya nanti. Titipan berharga dari Tuhan yang ditunggu oleh aku dan suami ku.

IBU! itulah pilihan panggilan ku.. aku sudah memilih panggilan itu sejak aku di usia remaja. rasanya ada makna tersendiri bagi ku untuk dipanggil ibu. Ternyata waktunya untuk dipanggil “ibu” oleh anak ku akan sebentar lagi, insyaAllah.

Kehamilan ini mungkin terasa sulit tetapi juga terasa mudah dilewati. Meskipun sudah melewati masa kritis trimester pertama, kadang-kadang kondisi badanku tak kunjung pulih sepenuhnya. Kelelahan dan rasa mual kadang-kadang masih ku rasakan. Apalagi ketika begitu banyak hal yang dipikirkan dan dihadapi di kantor. Semua beban itu seakan bertumpuk dan membebani tubuh ku. Alhamdulillah, suami masih mendukung ku untuk terus positif dan berusaha menemani ku di saat sulit ini.

Lima bulan… mulai terasa gerakan-gerakan kecilnya. Sesuatu yang membuatku terus takjub ada “sesuatu” di dalam perut ku ini. Makin hari pun kehamilan ini makin terlihat. Rasanya senang sekali. Sekali lagi Takjub rasanya!

Meski terkadang tubuh bagian belakang ku makin sering terasa sakit terutama saat duduk. Bahkan terkadang rasa kesemutan menjalar di punggung dan tangan ku. Rasanya membuatku semakin lelah dan ingin berhenti menjalani terapi untuk skoliosisku. Akan tetapi, kalau tidak kulakukan, apa yang akan terjadi?

Fuh.. But this is my journey to be a SuperMOM… semoga Allah selalu menemani ku untuk mengatasi semua rintangan yang berada di depan mata maupun nantinya. Bismillah…

Being a SUPERmom!

Yaps, Alhamdulillah enam bulan berlalu sejak tinggal bersama di sini aku dinyatakan hamil. Senang? TENTU! sebuah anugerah yang tak disangka diberikan Tuhan pada ku di saat yang tak pernah disangka. Di saat kami mulai berikhtiar untuk memperoleh keturunan, Tuhan memberikan kami sebuah hadiah istimewa yang membuat aku harus terus bersyukur dan mempercayai keagungan-Nya. Alhamdulillah….

Sekali lagi puji ku tak akan pernah berhenti, Alhamdulillah janin yang ku kandung pun berkembang dengan baik. Kalau keluhan, sama saja seperti ibu hamil lain. Merasakan yang namanya morning sickness, mual, ga nafsu makan, lelah berlebihan, dll. Bahkan rasanya seperti mengalami gejala depresi seminggu sekali. Namun, Alhamdulillah dukungan dari suami yang penuh perhatian, sampai rela bantu-bantu pekerjaan rumah tangga, membuat kehamilan ini terasa begitu diberkahi. Tentu saja, mendapatkan dukungan penuh juga dari keluarga suami (secara ini cucu pertama!) Meskipun jauh dari rumah, jauh dari orang tua (yang kadang bikin rindunya bukan kepalang selama hamil ini), insyaAllah semua bisa dijalani dengan baik.

Akan tetapi, semenjak menginjak bulan keempat, sakit di pinggulku semakin bertambah rasanya bahkan seperti menjalar ke tulang ekor. Memang sudah bertahun-tahun yang lalu (2010 rasanya) aku menjalani pengobatan punggung. Keluhan berulang mengenai kondisi punggung, membuatku harus menjalani terapi fisik beberapa kali. Di tahun 2013 awal pun aku sempat menjalani pemeriksaan oleh dokter ahli Cyropractic dan dinyatakan hampir mengalami scoliosis.

Sekarang, saat aku sudah merasa sakit ini sudah tak tertahankan lagi (sesekali membuatku sulit untuk bangun dari keadaan berbaring), aku mengeluhkan kondisi ini kepada dokter kandungan ku yang baru, yang tempatnya tidak jauh dari rumahku. Akhirnya aku dirujuk ke dokter ortopedi (sesuatu yang tak pernah terpikirkan untuk dikunjungi oleh aku maupun orang tua ku). Voala… oleh dokter ortopedi ini aku divonis positif SCOLIOSIS!

Seketika aku tertegun, Ya Allah, kejadian bener ya? Ini ya penyebab aku merasa aneh dengan posturku dan keluhan sakit di punggung yang tak kunjung reda. Awal setelah pemeriksaan rasanya biasa saja. Sampai aku menelepon orang tua ku di Palembang. Tangisku pecah karena aku tak kuasa memikirkan apa yang akan terjadi pada bayi ku dan diri ku nantinya dengan kondisi tubuh seperti ini. Aku pun menyesali karena tak tuntas mengobati kondisi ini dulu saat masih belum hamil, mungkin aku bisa menyelesaikan permasalahan ini tanpa rasa sakit yang amat hebat. Ibu ku pun akhirnya meminta ku untuk mengikuti semua yang dokter minta untuk dilakukan agar mampu menyokong kehamilan ku ini.

Mengapa menderita scoliosis cukup mengerikan untuk ibu hamil? Well.. aku belum membaca literatur ilmiahnya secara pasti. Namun sepengetahuan ku, scoliosis adalah sebuah abnormalitas pada kondisi tulang punggung. Sesuatu yang berbau abnormalitas akan membuat kehidupan mu menjadi abnormal (kebanyakan belajar psikologi membuat pikiran ini semakin mumet). Scoliosis adalah kelainan pada tulang punggung, yang mana tulang punggung adalah pusat dari postur tubuh kita. Kelainan ini membuat rasa sakit dan ketidaknyamanan pada tubuh. Belum lagi postur yang jelek, membuat fungsi organ dalam tubuh menjadi tidak maksimal. Nah, ketika tidak hamil saja fungsi organ tubuh menjadi tidak maksimal, bagaimana ketika hamil?

Saat hamil, bentuk tubuh akan berubah seiring pertumbuhan janin dalam rahim. Rahim yang membesar membuat organ-organ dalam tubuh menempati posisi berbeda dengan sebelumnya. Itu kondisi kalo orang dengan postur tubuh normal. Bagaimana dengan saya yang menderita scoliosis? Tentu saja akan makin sulit tubuh untuk menyesuaikan diri. Kebayang yang tadinya organ bisa dengan lega menempati tempat yang nyaman dalam tubuh, menjadi kesulitan fungsi karena posisinya kurang mendukung secara maksimal.

Mengalami kondisi ini, lagi-lagi aku harus bisa bersyukur! Suami ku dengan penuh kesabarannya menenangkan diriku di tengah kegalauan ini. Mengingatkan diriku untuk tetap bersabar dengan semua cobaan-Nya. Ya Allah..nikmat manakah yang engkau dustakan? Semua nikmat yang Engkau beri kepada ku hingga hari ini membuat aku tak henti mengucap syukur. Engkau mempertemukan ku dengan pasangan yang baik seperti ini, yang mampu membuatku menjadi normal dan optimis lagi. Being a SUPERmom! katanya. Aku sudah dititipkan Tuhan sesuatu yang berharga, yang artinya aku sudah siap menjadi ibu super yang kuat menghadapi apapun rintangan. Jangan kalah dengan kondisi dan selalu sabar menghadapi situasi.

Ya Allah… terima kasih.

Dukungan orang terdekat adalah hal yang sangat berharga (begitulah yang kupelajari di Psikologi). Menjadi baik memang adalah keinginan kita, bersumber dari diri pribadi. Namun akan semakin kuat apabila ada dukungan positif dari lingkungan kita. Melalui semua anugerah ini, aku harus bisa melewati rasa sakit yang ada dengan kesabaran. Berusaha mematuhi semua yang diminta dokter, agar aku mampu menjadi lebih baik (ga ada yang namanya bolos lagi untuk peregangan maupun pakai korset).

Sekali lagi, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari tiap kehidupan yang dijalani. Tak perlu menjadi orang yang amat hebat atau amat buruk untuk mampu mempelajari sesuatu dari kehidupan pribadi. Selagi kita mencoba untuk tetap tawakal, berikhtiar, bersabar, dan ikhlas atas kehendak Tuhan, insyaAllah kita akan mampu menjalani semuanya.

Bismillah, being a SUPERmom!

(Again!) New Life

Yeah.. sudah memasuki bulan keempat aku berada di kota perantauan lagi. Jauh dari rumah, jauh dari orang tua. Tetapi kali ini aku dekat dengan “teman yang paling bisa diandalkan” selama 7 tahun terakhir, Suami! Kehidupan baru (lagi), terutama tempat kerja baru dan RUMAH baru. Ya, Alhamdulillah kepindahan ini membuahkan hal yang berarti, yaitu RUMAH. Siapa nyana, melewati satu tahun pernikahan kami, kami berdua sepakat memiliki rumah sendiri. Memang, untuk memilikinya harus merogoh kocek sangat dalam sekali dengan meminta bantuan orang tua (pasti!). Alhamdulillah ada saja rezeki yang dialirkan oleh Allah untuk suatu niatan baik. Meski akhirnya tiap bulan kami harus menabungkan uang kami demi rumah yang kami tempati saat ini (Iya, masih KPR!).

Rumahnya tidak besar, cukup untuk kami berdua saat ini. Melihat harga rumah di Jakarta yang selangit, bisa menemukan rumah di lokasi strategis dengan harga yang murah tentu seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Demi mendapatkan rumah ini saja, kami kemarin harus keluar masuk gang, mata waspada sepanjang jalan siapa tahu ada iklan rumah yang tertera, bahkan melihat berbagai situs penjualan rumah berkali-kali. Alhamdulillah, begitu melihat rumah ini pertama kali, ada rasa kecocokan. Rumahnya tidak besar, hanya tipe 65/90. Karena bentuknya yang memanjang membuat kesannya luas, dengan jendela yang membiarkan cahaya matahari masuk. Bahkan setelah tahu saat ini harga rumah di sekitar daerah tempat kami tinggal makin naik, rasanya bersyukur sekali kami mampu membeli rumah ini.

Akhirnya, dimulai lah kehidupan kami berdua saja. Sesekali memang orang tua kami mampir untuk melihat keadaan kami. Namun, untuk urusan rumah Alhamdulillah dilakukan berdua. Ya, berdua. Karena ini rumah kami berdua, mengapa tidak kami mengurusnya berdua. Jadi, tidak masalah bagi para lelaki untuk ikut serta mengurus rumah tangga karena rumah tangga dibangun berdua, bukan hanya sendiri-sendiri. Satu hal penting dalam menjaga komitmen itu adalah menyatukan visi bahwa kami mengurus rumah berdua, dan tidak ada salah dengan mengurusnya berdua.

Rasanya begitu banyak berkah didapat setelah bersama. Mungkin ada beberapa hal yang belum kesampaian. Akan tetapi, setidaknya satu per satu jalan kami coba lewati. Banyak sekali hal yang perlu kami sesuaikan. Dengan kebersamaan kami selama 7 tahun ini, separuhnya kami habiskan dengan berjauhan. Jadi, cukup banyak yang harus kami kembali cermati, sesuaikan, dan perbaiki. InshaaAllah, dengan seizin-Nya ini akan menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah. Semoga ketenteraman akan selalu kami rasakan berdua di rumah kecil kami. Aaamiinn….